TASBIH DAN SEPASANG BONEKA JERAMI

Tahun 1950, disebuah kampung yang jauh dari suasana perkotaan, dimana belum ada satupun bangunan semen kokoh, megah dan tinggi, yang ada hanyalah rumah terbuat dari kayu nan sederhana. Belum ada jalan raya yang ada hanya jalan pebatuan, jalan yang dipenuhi lumpur jikalau datang musim penghujan. Kampung tersebut belum di arusi listrik, tiap rumah hanya diterangi obor dan lampu minyak tanah. Nama kampung tersebut ialah Padang Belimbing. Asal muasal nama tersebut karena dulunya kampung tersebut ialah suatu padang yang banyak ditumbuhi buah belimbing. Masyarakatnya hidup dengan sederhana, penuh kedamaian, keramah-tamahan dan saling tolong menolong antara satu sama lain.
Raja Lelo (23 tahun) laki-laki gagah, disiplin, dan berasal dari keluarga yang berada. Keluarganya merupakan orang yang terkaya dikampungnya, walaupun demikian, ia sangatlah dermawan dan tidaklah membeda-bedakan orang lain, karena itulah yang diajarkan oleh keluarganya semenjak ia kecil.
Menjelang Magrib datang, anak-anak kampung bersiap-siap menuju Mushola untuk menunaikan shalat Magrib berjamaah, sekaligus melakukan kegiatan tadarus dan baca Al-Quran. Mereka memanggil setiap penghuni rumah yang mereka lalui untuk menunaikan shalat Magrib berjamaah ke Mushola, itu pun terjadi saat mereka melewati rumah Raja. Mereka memanggil kak Raja untuk ikut bersama-sama dengan mereka menuju Mushola. Sampailah di Mushola, suara Azhan berkumandang, semua jamaah bersiap-siap menunaikan shalat Magrib. Selesai shalat, dan berdoaa di lanjutkan dengan membaca tadarus dan AL-Quran bersama-sama. Saat itu Siti mendapat giliran pertama kali membaca Al-Quran. Siti Ramunas (22 tahun) perempuan yang cantik jelita, pekerja keras dan pintar membaca Al-Quran. Ia melantunkan lantunan ayat suci dengan indahnya, membuat semua pendengar kagum dan terpukau mendengarkannya, termasuk Raja. Mendengar bacaan Siti yang merdu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia pun tidak tau mengapa itu terjadi saat ia mendengar Siti mengaji. Semenjak itulah Raja jatuh hati pada Siti.
Kegiatan Tadarus selesai, Raja bersama jamaah lainnya membersihkan Mushola, dan tidak sengaja Raja menemukan tasbih yang ia ketahui itu merupakan milik Siti. Saat pulang dari mushala, raja mengambil obor yang dibawa oleh beberapa anak dan ia mendekati Siti yang sedang bersama temannya Tuti (sahabat Siti yang cerewet). Didepan Siti tak sepatah katapun keluar dari mulutnya karena terpana melihat kecantikan Siti, Raja terlihat salah tangkah sampai-sampai terlihat tampak aneh. Siti dan Tuti tersenyum-senyum melihat tingkah Raja seperti itu. Seketika Raja langsung pergi meninggalkan mereka berdua dan pamit.
Siti berasal dari keluarga sederhana, ia harus bekerja dari pagi hingga petang untuk membantu kedua orang tuanya di sawah. Pagi harinya setelah siti memasak, siti mengantarkan sarapan pagi untuk kedua orang tuanya yang sedang menggarap sawah. Ia tak sungkan masuk sawah, ambil cangkul dan langsung menggarap sawah, dengan cakapnya pekerjaan tersebutpun selesai dan membuat senang kedua orang tuanya.
Sorenya suasana damai menyejukkan hati menghampiri setiap orang, angin sepoi-sepoi berhembus membuat para dedaunan bergoyang mengikuti irama, burung-burung terbang hinggap dari tempat satu ke tempat lainnya, semua masyarakat padang Belimbing melakukan semua aktivitas dengan suka cita, termasuk Siti. Ia sedang mengusir burung-burung yang hendak memakan padi. Berlari ia dari sisi sawah ke sisi sawah lain untuk mengusir burung-burung pemakan padi. Karena lelah berlarian terus-menerus, dikumpulkannya kayu-kayu ukuran sedang, kemudian jika burung datang dilemparilah kayu-kayu tersebut. Plakkkk (terkena orang yang sedang melintasi sawah) Siti kaget dan mendekati orang tersebut, yang dilihat Siti adalah Raja yang masuk sawah berlumpur akibat terpeseset karena kayu yang mengenai kepalanya.
Siti membantu mengeluarkan raja dari sawah serta membantu membersihkan pakaian raja yang terkena lumpur. Siti meminta maaf terhadap kejadian yang telah dia lakukan pada raja. Siti bertanya kenapa Raja bisa ada disini. Raja menjelaskan bahwa ia yang akan menggarap sawah pamannya selama pamannya pergi ke rumah orang tua atau nenek dari raja, untuk beberapa bulan. Sehingga kita akan sering bertemu disini (kata raja), mendengara hal tersebut membuat siti tersipu malu.
Saat kejadian itulah siti dan raja mulai akrab, mereka sering menghabiskan waktu bersama di sawah, bagi mereka sawah sangatlah istimewa, selain tempat untuk mengais rezeki, sawah adalah tempat untuk mereka bertemu, berbagi cerita juga berbagi kasih serta cinta. Melihat keakraban yang terjalin semakin dekat antara Siti dan Raja, membuat Harto cemburu atas keberadaan raja di sisi siti. Harto (23 tahun) merupakan tetangga siti yang sudah menyukai siti sejak ia berusia 15 tahun. Melihat hal tersebut Harto mulai melakukan berbagai cara untuk menghalangi kedekatan mereka berdua.
Biasanya harto mengajak siti untuk mampir, duduk-duduk diperkarangan rumah, sekedar berbincang-bincang atau mengajak jalan, pasti akan disempatkan oleh Siti walau itu hanya sebentar. Namun sekarang, siti menolak dan ia memilih pergi ke sawah untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai dimana telah ditunggu oleh seseorang yang mulai mengisi hatinya yang kosong, seseorang itu ialah Raja. Mereka menghabiskan waktu bersama di sawah, karena asyiknya mereka lupa akan waktu yang telah gelap disertai mendung yang mengumbal. suara azhan magrib berkumandang langit menumpahkan tangisan kebahagian bagi makhluk hidup bumi. Jadi, mereka memutuskan untuk sholat berjamaah di gubuk dekat sawah, sambil menunggu hujan reda. Hari semakin gelab, hujan tak kunjung reda mereka memutuskan untuk pulang kerumah. Raja melepaskan bajunya di pasangkan ke tubuh Siti. Mereka saling pandang memandang dan tersipu malu. Sungguh perasaan yang tak bisa di bendung lagi oleh raja dan siti bahwa mereka saling menyukai. Lalu raja memotong daun Pisang untuk melindungi tubuh mereka dari hujan. Pergilah mereka meninggalkan gubuk tersebut sambil berlari-lari kecil dan saling kejar mengejar.
Saat musim panen tiba, siti bersama orang tuanya, ibuk-ibuk, dan harto memanen hasil sawah. Tanpa Siti sadari raja pun ikut datang, raja masuk sawah dan mulai membabat habis padi padi yang siap di panen. Siti menyuru raja kembali kerumah, ia tidak mau menyusahkan raja. tetapi raja meyakini Siti bahwa raja bermaksud untuk diupah bukan untuk membantu (raja terpaksa berbohong). Maka siti langsung mengizinkannya. Raja menghadiahi Siti sepasang boneka jerami yang ia buat dari kemarin malam. Raja menceritakan bahwa boneka jerami tersebut tidak akan bisa dipisahkan oleh siapapun, seperti kita yang tak kan dipisahkan oleh siapapun. Siti tersenyum lebar dan sangat senang menerimanya. (kedua tangan sepasang boneka tersebut saling berpegangan)
Melihat keakraban siti dan raja terus menerus, menimbulkan kecemburuan Harto pada raja. Ia berencana mengatur rencana agar siti membenci raja, dan akhirnya dapat memisahkan mereka dan membuat Harto bisa dekat kembali pada siti. Suatu ketika Harto berupaya menceritakan kejelekan Raja pada beberapa orang, tapi gagal karena orang percaya bahwa raja ini adalah anak baik-baik yang berasal juga dari keluarga baik-baik.
Beberapa bulan kemudian
Musim tanam padi akan tiba, raja membantu membajak sawah siti menggunakan kerbau. kadang kala mereka bercanda gurau, main lumpur, cari belut sampai raja membantu siti menaiki kerbau. Saking asiknya menanam padi, tak disangka kaki siti menginjak siput dan terluka, rajalah yang membantu Siti. Siti merasa beruntung ada seorang laki-laki yang begitu baik padanya. Raja menanyakan apakah tidak sakit? Siti menggeleng geleng menahan perih kakinya. Ternyata ada bagian tubuh siput yang tajam menusuk kaki siti. Raja meminta siti untuk menahan sakitnya, dicabutnya (siti berteriak) dengan cepatnya di ambil kain untuk membersihakan luka dan beberapa dedaunan untuk mengobati luka kaki siti. Beberapa waktu kemudian Raja langsung menggendong Siti (siti kaget) dan membawanya pulang. Siti mintak diturunkan karena tak mau dibilang hal-hal yang aneh oleh orang lain, siti menyatakan bahwa ia bisa berjalan dan hanya butuh sedikit bantuan untuk di papah.
Dirumahpun (kamar) siti sering senyum senyum sendiri mengingat kejadian di sawah saat ia bersama raja. Padahal Tuti sedang bercerita seolah olah dihiraukan oleh Siti. Sehingga membuat Tuti kesal sendiri oleh sikap sahabatnya itu. Tuti yang sangat cerewet ingin tau apa yang sedang dialami siti seperti orang hilang akal senyum-senyum sendiri. Akhirnya Tuti menemukan jawabannya dari sepasang boneka jerami yang diletakkan diatas meja kamarnya. Tuti yang penasaran siapa gerangan yang memberikannya hadiah it uterus-menerus memberikan beribu-ribu pertanyaan, dan akhirnya diceritakanlah kejadian-kejadian disawah saat Siti bersama Raja kepada Tuti. Baik itu saat hujan-hujan, saat menobati luka kaki, naik kerbau sampai raja menggendongnya. Mendengar hal itu Tuti histeris, berteriak-teriak sendiri dan terbawa perasaan. Tuti berharap seandainya ada juga pangeran yang gagah perkasa seperti raja yang bisa seperti itu padanya.
Disisi lain, Harto memiliki rencana yang busuk, ia menyuru Ranti (teman dari Harto, Siti, Raja dan Tuti) untuk mendekati Raja, jika berhasil harto akan memberinya imbalan kalung emas miliknya. Sore itupun Ranti mulai beraksi, saat Raja sedang di gubuk sedang istirhat, Ranti datang dengan isak tangis yang sejadi-jadinya, dan membuat raja menjadi bingung. Ranti menjelaskan bahwa ia kehilangan dombet, semua barang belanjaanya dicuri maling. “Hampir saja mereka juga mau membawa dan berbuat buruk terhadapku, untung saja aku bisa lari dari mereka, sugguh aku takut dibuatnya” ujar Ranti. Menengarkan cerita tersebut membuat raja merasa iba, karena raja tak sanggup melihat wanita menangis, Ranti terus menerus menangis tampa hentinya. Diberilah pengertian oleh raja agar Ranti tenang. Ranti meminta satu permintaan pada raja untuk meminjamkan bahunya pada Ranti, walau merasa berat, Rajapun mempersilahkannya.
Dari kejauhan meteteslah air mata membasahi pipi Siti melihat hal tersebut. Ia tak kuat melihat apa yang telah dilakukan raja terhadapnya. Ia berusaha membesarkan hati bahwa ia bukan siapa-siapa bagi raja. Dan rajapun bukan orang yang penting baginya. Ia berusaha memedamkan rasa yang sulit ia gambarkan, Ia lari meninggalkan tempat tersebut dan meninggalkan harto yang telah memanggilnya untuk melihat busuknya sikap raja tersebut. Disana lah harto merasa puas.
Dirumah (kamar) Siti menagis, mengapa raja begitu teganya pada dia, raja telah membuat hati siti terluka. Dia lihatnya sepasang boneka jerami pemberian Raja. Siti menganggap semua yang dikatakan raja itu adalah bohong, semuanya bohong. Ingin dibuang boneka tersebut, tapi ia tak sanggup.
Malam harinya harto mendap-mendap pergi kesawah, ia mendekati sawah yang telah ditanami oleh Siti. Ia menutup saluran air yang mengalir ke sawah Siti dan ia alirkan banyak ke sawah Raja. Sehingga paginya membuat kaget Siti dan Tuti. Sawahnya kering, semua padi mati. Usaha yang ia lakukan selama itu gagal akibat tidak ada aliran air yang mengaliri sawahnya. Tuti memberitahu bahwa, semalam harto melihat Raja menyumbat aliran air kesawah siti. Dan meneruskan aliran tersebut ke sawahnya sehingga sawahnya gembur, padinya hijau, sehat dan subur. Siti tidak percaya apa yang disampaikan Tuti sebelum ia melihat dengan mata kepalanya. Siti masih mempercayai raja bahwa raja tak mungkin melakukan hal itu, meskipun hati siti luka dibuatnya.
Harto membawa raja menuju sawah dengan maksud agar raja dapat memberikan bantuan menanam padi siti yang mati digantikan dengan yang baru. Saat raja beriap siap untuk menanam padi, ia meninggalkan Raja dan memanggil Siti bahwa Raja lah yang berbuat kerusakan terhadap sawah Siti. Saat itu tepat Raja sedang mencabuti semua padi yang telah mati, datang Siti, Tuti bersama Harto. Harto memberitaukan bahwa rajalah yang telang merusak sawah Siti (berjalan mendekati sawah). Siti marah besar dan tidak menyangka bahwa raja telah berbuat seenaknya. Hartopun ikut memprofokator momen itu, mendengar hal tersebut, raja langsung emosi, memukul Harto, dimana Harto yang telah menyusun rencana itu, Raja terus meluapkan emosinya pada Harto. Siti memisahkan Raja dan Harto sambal menagis atas perlakuan Raja yang telah membuat ia marah dan kecewa. Siti meminta Raja untuk berhenti, Siti mengungkapkan kekecewaanya, “tidak masalah hati siti luka dibuatnya, karena melihat raja dan ranti berduaan dan berpelukan, tapi siti minta jangan buat dia marah karena hal tersebut bersangkutan dengan mata pencariannya dan keluarganya. Siti akan marah pada siapapun yang telah merusaknya termasuk itu Raja. Siti marah tanpa sadar ia memukul mukul raja dan mendorong Raja hingga masuk ke dalam sawah. Dengan keadaan seperti itu Harto sangat puas dan mereka meninggalkan Raja sendirian. Raja begitu kecewa, ia berteriak sekuat-kuatnya, ia marah pada dirinya sendiri karena membuat wanita yang ia sayangi menangis dan ia merasa sangat bodoh karena telah dibohongi oleh Harto.
Dengan kecewanya raja kembali ke rumah dan bertemu pamannya yang telah kembali dari rumah nenek raja. Paman memberitahu bahwa nenek raja ingin bertemu dengan raja dan menyuru raja ke kampung nenek. Sedangkan Siti sesampai dirumah di koyak-koyaknya boneka jerami dan ia luapkan semua emosinya pada boneka tersebut.
Esok harinya Raja mengambil tasbih Siti yang ketinggalan di Musolah waktu itu, berniat menyembalinya pada Siti. Serta meminta maaf dan memberitau bahwa ia akan pergi mungkin untuk selamanya. Belum sampai dirumah Siti, Raja mengurungkan niatnya karena ia melihat siti bersama dengan Harto, dimana Siti sedang mengecek luka Harto kemaren. Raja menganggap bahwa Siti akan bahagia bersama Harto, dan ia pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Disana Harto sangat senang dan bersyukur Siti telang mengobati lukanya. Harto menghadiai Siti sebuah kalung emas, walaupun dengan berat hati menerimanya karena terpaksa.
Beberapi hari kemudian raja bersiap siap untuk pergi ke rumah neneknya. Raja berkata, sambil memegang tasbiah Siti tangannya. Ia minta maaf pada siti tidak bisa menemuinya serta menjelaskan kejadian tersebut padanya. Dengan berat hati raja pergi ke Terminal untuk segera kerumah neneknya. Siti mendengar kabar kepergian Raja dari tuti, ia tak peduli dan tak mau mendengar raja lagi karena kekecewaan serta luka hai siti yang belum kunjung reda walaupun dihati terkecilnya merasakan kehilangan.
Ditempat yang berbeda Ranti menagih janji dari Harto yaitu sebuah kalung emas yang akan diberikan padanya jika ia berhasil mendekati Raja. Harto seolah-olah lupa akan janjinya, ia mengelak tidak pernah membuat janji seperti itu pada Ranti, Harto tak peduli pada Ranti karena kalung tersebut telah ia berikan pada siti. Disana Ranti mengamuk pada Harto, marah-marah, tapi tidak dihiraukan harto. Malahan Harto pergi meninggalkan Ranti dengan hati yang senang, puas tanpa sedikutpun merasa bersalah.
Beberapa saat kemudian, Ranti dengan rasa bersalahnya mendatangi Siti dan Tuti. Ranti menjelaskan semua bahwa semuanya itu adalah rencana Harto. ‘’Serta Harto akan memberikan kalung emas jika aku berhasil memisahkan kalian berdua. Dan kalung emas itu yang sedang kau kenakkan itu siti” ucap Ranti. Mendengar hal tersebut Siti segera menemui Harto, ia marah marah pada harto memukul tangan harto yang sakit, menarik perban kepalanya dan memutuskan kalung yang diberikan Harto padanya. Itu untuk rusak sawahku, itu untuk matinya tanaman padiku, itu untuk sakit hatiku dan, raja……………. Menyebut nama raja ia langsung lari ke rumah raja, ia merasa sangat bersalah karena tidak percaya padanya dan telah menyakiti hatinya. Ia terus lari dengan sekuat tenaga, sekuat ia berlari untuk meminta maaf pada raja. Sampai ia di rumah raja, sayang raja telah menuju stasiun terminal. Ia meminjam sepeda di rumah Raja, ia mengayuh dengan sekuat tenaga yang ia bisa dan pergi menuju terminal yang jauh sangat jauh dari kampung. Tak sengaja ia terjatuh karena batu-batuan yang cukup besar dijalanan sehingga kakinya terluka. Siti teringat akan Raja yang yang mengobati kakinya saat luka dulu. Siti sedih dan ia berharap bisa bertemu dan mengungkapkan kesalahannya pada raja. Ia terus mengajuh tampa menghawatirkan luka kakinya. Sampai ia di stasiun, keberangkatan bus terakhir sudah berangkat. Kakinya lunglai, ia jatuh. Tak satupun kalimat keluar dari mulutnnya, ia menangis dan terus menangis. Ia tak bisa meminta maaf pada raja, tak kan bertemu lagi dengannya. Siti menagis sekuat kuatnya sungguh ia sangat menyesali sikapnya pada raja.
Siti habiskan hari-harinya di sawah dengan penyesalan. Diamatinya terus sepasang boneka jerami pemberian Raja yang telah ia perbaiki. Semakin dalam ia memandangi boneka tersebut, semakin sedih Siti dibuatnya, Tuti mencoba menghiburnya tapi tak kunjung berhasil. Siti………… dari kejauhan seseoarang memanggil Siti, dan ia adalah raja. Siti kaget, tak percaya melihat kedatangan Raja. Kesedihan berubah menjadi kebahagiaan. berlari siti menuju raja, ia memeluk Raja mengunggakapkan semua sikap bersalahnya pada Raja. Raja sudah mengetahui itu semua dari surat yang dikirmkan oleh Tuti padanya, ungkap Raja. Raja memberikan tasbih siti yang ketinggalan di mushola ketika itu. “inilah yang mengembalikanku kesini”. “Dan boneka ini yang tak kan memisahkan kita” ungkap siti. berombong- rombong dari sisi sawah datang keluarga Siti dan Raja beserta nenek Raja. Raja hendak menyunting Siti. Ia bertanya pada siti. Siti langsung menjabawab. YA.
TAMAT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arus

Are You Okay?

Alone