Short story
Assalamualaikum teman-teman
Kali ini aku ingin berbagi pengalam yang baru saja aku rasakan.
Apakah ini pengalam menyedihkan ?
Apakah pengalaman yang pahit?
Atau justru pengalaman yang membahagikan.
Sulit memang aku menceritakannya, namun InsyaAllah bisa diambil point penting.
Besok malam adalah malam takbiran, malam untuk menyambut datangnya hari kemenangan. Dan hari ini aku masih ada disini, di tempat bekerjaku. Konter. Tadi pagi aku kerja di konter yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalku, butuh waktu kira-kira 20 menit untuk sampai kesana. Alhamdulillahnya, aku izinkan untuk membawa motor orang rumah sudah berminggu ini.
Dan aku juga bingung mau membicarakan ini, sepertinya bertentangan dengan batinku. Namun apalah dayaku. Aku akan mengatakannya.
Baiklah. Aku, ditelpon bosku untuk kerja lembur, mendengar hal itu, alangkah senangnya hatiku, karena akan menambah pemasukanku. Karena begitu banyaknya hutang-hutang yang aku bayar, walau dengan gajiku nanti hutang itu belum lunas semuanya.
Pulang dari konter, aku kerumah, mandi shalat dan aku tidak bawa bekal untuk buka, yang kubawa hanya lah sebuah ransel yang lengkap dengan alat-alatku, dan sebuah botol air.
Dengan membawa air minum saja, itu sudah membuat aku sedang, karena aku punya bukaan. Kalau aku tidak pulang kerumah, maka aku tidak punya bukaan untuk hari ini.
Mengapa aku begitu sedangnya dengan sebuah botol air ini, kenapa aku tidak membeli saya diluar sana?
Pertanyaan yang bagus. Karena uangku telah habis, habis, aku baru membeli bensin, yaaa saking tidak ada uangnya.
Pahitkah ini??
Dan aku tidak pernah jujur pada orang rumah tempat aku tinggal sekarang ini. Jika mereka tanyakan "apakah ada uang" aku pasti menjawab ada. "apakah motor ada minyaknya" dan aku menjawab ada.
Sebelum minyak sekarat, pasti aku isi selalu, agar orang rumah tidak mengisikannya untukku. Aku tak mau merepotkan mereka, mereka telah banyak menolongku, rumah, tempat tidur, makan, mandi, semuanyalah. Dan mereka menganggapku seperti anak mereka. Bagaimana perlakuan mereka pada anak mereka, begitu pula denganku. ***
Dikonter aku sampai, konter yang berbeda lagi dari tempat tadi.
Disinilah aku akan menghabiskan waktu bukaku. Waktu terus berjalan, pelanggan silih bergantian, dan tibalah jam 18:05 aku menghidupkan radio, tak lama memang suara azan berkumandang. Aku ambil botol minumku, aku berbuka dengan lapang dada atas karunia yang telah Allah berikan padaku hari ini.
Karena waktuku yang singkat untuk berbuaka, aku putuskan untuk segera ke Mesjid, dan aku tersenyum lebar melihat bapak-bapak dan ibuk-ibuk yang sedang berbuka di perkarangan mesjid, memutari meja persegi panjang. Mereka menoleh padaku, dan mengajakku untuk untuk berbuka bersama mereka, karena segan aku mengucapkan terima kasih. Suara azan dikumandangkan, tak tau kenapa aku menangis, entah kenapa, Ya Allah berikanlah hambahmu ini ketegaran dan hati yang selapang-lapangnya. Shalat berjamaah usai, dan memang aku memutuskan untuk mendekati meja persegi panjang tadi, dan Alhamdulillah aku memang memakan makanan tersebut. Saat makan, datanglah salah seorang bapak mendekati mejaku, dia ramah, baik. Dan kami berpinjang-pinjang sebentar, dia menanyakan kegiatanku, asalku dan begitu pula sebaliknya aku. Bahwa bapak itu lulusan pendidikan bahasa indonesia.
Memang Allah selalu memberikan rezki pada hambanya, tak terbayang senangnya aku, karena makanan tersebut bisa mengganjal perutku, ibarat raja singa yang tak makan berhari-hari lamanya.
Apa ya?? Sekarang aku tak habis pikir, aku merenung, merenung dalam-dalam. Ya sudahlah, apa artinya perenungan pada nasib sial ini. Yang harus aku lakukan ialah selalu berusaha, kerja keras dan tak lupa selalu berdoa, beribada pada memilik semesta ini Allah S.W.T yang telah mengatur takdir, takdir untuk setiap hambanya.
Selalu bersyukur, tabah, ikhlas, tawakal, iktiar, pasti ada jalannya. Jikalau bukan sekarang, itu nanti! Jikalau bukan di dunia, di akhiratlah kebahagian itu kita dapat.
Heheh bahasaku... Karena jangan lupa, akan saling mengingatkan untuk kebaikan teman. Walaupun aku jauh dari kata tetsebut, naman aku akan terus berusah, dan berusaha. Percayalah Allah bersama kita
Salam mimpi, NAHDAH AYATILLAH
Komentar
Posting Komentar
Tanggapan :