Indah Pada Waktunya
INDAH PADA WAKTUNYA
Disaat keluarga sedang kacau, mimpi-mimpiku hancur, pekerjaankku penuh dengan kepahitan. semuanya berawal dari sini : Mengapa ini harus terjadi pada kami? Apa salah kami? Dan mengapa semua itu berdampak buruk padaku dan juga anak-anak kalian. Perekonomian keluarga memburuk, papa dan mama terlilit hutang di Bank, tanah terjual, sawah digadai, sampai-sampai harta warisan nenek juga ikut terjual. Itu semua akibat dari kehidupan orangtuaku yang selalu bersenang-senang dimasa lampau, tidak mau bersusah-payah, terutama papaku. Papa yang selalu dimanjakan oleh nenek (mama dari mamaku) dan setiap pekerjaan yang dilakukan papa selalu mendapat bantuan dari paman-pamanku, sehingga menumbuhakan sikap manja dari papa. Setiap usaha yang ia dilakukan pasti menghasilkan kegagalan, bukan keberhasilan. Ditambah lagi ia yang tidak mau bekerja keras dalam bekerja, membuat mama selalu marah, kesal, dan emosi. Semua itu sudah terjadi bertahun—tahun lamanya sejak usia pernikahan mereka masih seumur jagung.
Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara, aku dan saudara-saudaraku sudah terbiasa hidup susah. Kehidupan serba kekurangan, mengharuskan kami memiliki mental sekuat baja, tahan banting terhadap segala masalah. Cacian dan hinaan dari banyak orang tidak kami pedulikan. Disini, Mamalah yang berperan penting dalam menumbuhkan karakter kami. Mamalah yang membesarkan dan mendidik kami agar kelak bisa jadi orang. Mama banting tulang melakukan segala usaha yang bisa ia lakukan agar anak-anaknya bisa bersekolah selayaknya anak-anak lain. Untuk itu, kami harus ikut serta dalam membantu mama, dan tak jarang kami mengeluh, kenapa disaat kami seharusnya bermain, kami harus melakukan kegitan yang tak pernah dilakukan oleh teman-teman sebaya kami. Namun mama selalu menguatkan kami, tidak ada hasil yang manis tanpa adanya kerja keras.
Aku, kakakku, dan adik-adikku bersekolah semua. Kakakku sedang mengenyam bangku kuliah, aku dan kembaranku SMA, adik laki-lakiku MTsN, dan adik perempuanku SD. Untuk menyekolahkan kelima orang anak sekaligus, dalam waktu yang bersamaan, membutuhkan dana yang sangat besar jumlahnya. Sadar akan hal itu, tidak banyak uang yang kami harapkan dari mama. Papa? Apalagi, hasilnya sama saja dengan nol besar. Sia-sia saja kami mengeluh pada papa, tidak dapat ia lakukan. Untuk bayar uang sekolah jika kami ada uang, maka pakai itu dulu, jika mama ada uang, baru ganti. Namun sayang sekali, mama tidak bisa menggantinya karena keterbatasan dana yang ia dimiliki. Uang jajan, diberi perminggu, dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan teman sebaya kami, baik itu aku, kakak dan adik-adikku. Peralatan sekolah, pakaian, tas, sepatu harus dibeli dengan uang kami masing-masing. Disini aku dan saudara-saudaraku sudah mengerti atas kondisi tersebut. Tidak banyak yang bisa dilakukan papa, papa diam membatu. Dari sisi materi tidak dapat membantu, dan sayang dari sisi pemikiranpun tidak bisa membantu mama, dan mengharuskan mama sendirilah memikirkan kelima anak-Nya. Tak jarang aku sering melihat mama stress dengan keadaan yang serba semberaut seperti ini.
Aku sedih, mengapa? Ada apa dengan papaku? Apakah papa tidak paham dengan kondisi kita saat sekarang ini? Mengapa papa tidak mau mengurahkan seluruh kekuatan untuk berkerja keras, ini semua demi anak-anakmu dan keluargamu pa. Apakah papa tidak melihat perjuangan mama dan anak-anakmu? Kami anak-anakmu harus berjuang terlebih duhulu agar kami bisa sekolah. Kami berbeda seperti anak-anak diluar sana yang mendapatkan apa yang mereka inginkan dari papa mereka. Bagaimana caranya agar papa mengerti, bagaimana caranya agar papa bisa membuka pikiran terhadap masalah yang kita alami saat ini. Aku marah padamu, aku muak dengan segala macam tingkah lakumu, aku miris melihat mamaku menagis karenamu. Mana kasih sayangmu, mana rasa cintamu pada kami. Kami sama sekali tidak mendapatkan itu. Perhatikan sekecilpun, kami tidak mendapatkannya. Seolah-olah papa tidak peduli pada kami. Aku iri melihat teman-temanku yang bisa bercanda-gurau dengan papa mereka, yang bisa makan malam bersama, belajar bersama, shalat berjamaah bersama, menonton TV dan menghabiskan malam bersama dengan papa mereka. Namun, kami tidak dapat itu darimu pa. Setiap malam papa terus keluar rumah, lebih memilih nongkrong di Karung Kopi, menghabiskan uang, waktu, dan pulang larut malam. Melihat semuanya membuat hatiku rapuh dan teriris-iris. Mamaku yang harus menyambung nyawa untuk menghidupi anak-anaknya, sedangkan papa hanya bersedang-sedang diatas penderitaan kami tanpa sedikutpun memperdulikan kami, istri dan anak-anakmu.
Setiap hari mama marah-marah pada papa, dan tidak sedikitpun papa mempedulikannya. Mama seperti marah pada sebuah tebok, tanpa respon, makanya apakah tidak kesalnya mama dibuat papa. Mama bercerita padaku dan saudara-saudaraku, mencurahkan keluh-kesah yang selama ini memenuhi seluruh ruang hati dan pikirannya. Tak jarang airnya jatuh berlimpa ruah. Kenapa papa tak berubah? Kenapa papa membiarkan kami seperti ini? Jika ini terus terjadi tanpa adanya perubahan yang baik, ini akan menjadikan hidup kami terpuruk, sensara dan bertambah miskin. Tak jarang keluar dari mulut mama keinginan untuk berpisah dengan papa. Aku tak sanggup mendengarnya, aku tak sanggup harus berpisah dengan saudara-saudaraku yang lain. Aku tak sanggup dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang telah bersemanyam dalam pikiranku. Aku tak sanggu. Kami tak sanggup. Namun, mama memiliki sifat ksatria, dengan berjalannya waktu, mama memutuskan untuk terus bersama papa walau itu terasa sakit. Bagi mama, kami adalah yang terpenting, mama tak sanggup melihat anak-anaknya hidup tanpa sosok papa disamping kami, mama juga takut membuat hati kami terpukul dan akan menguncang mental kami.
Waktu berjalan, aku dan kembaranku telah lulus SMA. Kembaranku diterima di perguruan negeri di Jawa lewat jalur undangan (SNMPTN), sedangkan aku tidak. Segala upaya telah aku lakukan, sudah banyak test yang aku lalui, baik itu jalur undangan (SNMPTN), ujian tertulis (SBMPTN), ikatan dinas, jalur undangan politeknik, ujian mandiri tertulis dan non tertulis, tak satupun yang berhasil, semuanya gagal. Padahal aku telah mengikuti BIMBEL dengan biaya lebih dari 1 juta dengan uang tabungan yang telah aku kumpulkan cukup lama. Uangku habis, tapi hasilnya nol. Hingga akhirnya aku tidak kuliah. Disinilah kondisi terpuruk bagiku. Sudah banyak usaha yangku lakukan, namun hasilnya tidak terlihat dan kenyataannya menghasilkan kerugian padaku. Ini tidak adil! aku sang juara umum di sekolahku, tidak kuliah, sedangkan mereka yang dua puluh besar bisa kuliah, malahan di perguruan negeri. Ini sungguh tidak adil. Aku menyalahkan kondisi dan keadaanku, kenapa harus aku, kenapa? Kenapa ini terjadi. Sulit bagiku untuk menerima kenyaataan pahit ini. Aku terpuruk, aku tak sanggup dengan segala macam pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-teman sekolahanku, aku tak sanggup dengan banyaknya pertanyaan dari keluarga, tetangga, orang-orang terekatku, “dimana kuliah? Jurusan apa” yang nanti akan membuat hatiku terkucil, sedih, lalu sakit. Untuk itu aku tutup akses berkomunikasi dengan mereka, sehingga tidak jarang mereka menanyakan kabarku lewat keluarga dan sahabatku.
Suatu ketika aku memutuskan untuk pergi merantau dengan niat membantu kedua orang dan adik-adikku. Ini juga sarana bagiku untuk menghibur diri dan melupakan sejenak kepurukan hati dan pikiranku. Di tempat perantauan aku bekerja di salah satu rumah bimbingan belajar (BIMBEL), aku berkerja dari jam delapan pagi hingga sembilan malam, dari hari Senin sampai Sabtu. Aku menagajari anak TK yang banyak tingkah, sedikit-sedikit mengadu padaku, anak SD yang selalu bertengkar, menangis, kejar-kejaran. Sungguh banyak menguras energiku. Dengan jadwal yang padat mengajar diseluruh jam, dan sedikit istirahat membuat tubuhku lemas, lelah, muka pucat, kepala pusing akibat kurang tidur, terlebih dari itu begitu banyak tekanan yang diberikan oleh pemilik bimbel itu kepada karyawan-karyawannya. Kami diharuskan membuka bimbel, membersihkan bimbel, menyapu, menguras kamar mandi, mencuci peralatan makan dan menutupnya kembali, serta karyawan atau para guru diharuskan juga untuk menunggu para murid yang belum dijemput oleh para orang tua. Jika terlambat lima menit, dipotong gaji sebanyak Rp5.000. Ditambah lagi, semua guru yang mengajar di masing-masing kelas harus membuat semua soal dari semua mata pelajaran saat ujian datang. Baik itu ujian tengah semester, semester ganjil dan genap. Terkhusus bagiku, aku harus mengetik semua soal itu. Dari kelas 1 sampai 6 SD dan SMP. Dengan 50 soal tiap matapelajaran, harus selesai bagiku dalam waktu yang singkat. Padahal dalam kegitan tersebut aku juga harus megajar juga. Begitu lengkap penderitaanku, dan bayangkan saat aku akan terima gaji dari ibuk itu, ia mengatakan bahwa aku dalam proses training, aku hanya mendapatkan gaji Rp300.000 untuk satu bulan bekerja. Bayangkan dengan pengorbanan yang telah aku lakukan, tidak sebanding untuk itu semua. Lelahku tidak terbayarkan olehnya. Tidak sanggup dengan pekerjaan seperti itu, aku berhenti. Selain itu aku juga harus mempersiapkan diri untuk ujian SBMPTN
Waktu untuk mempersiapkan ujian SBMPTN cukup lama. Sayang uangku terus berkurang tanpa ada pemasukan, hingga tawaran pekerjaan menarik yaitu untuk menjadi agen jual pulsa. Dan lagi-lagi ujian datang menerpaku. Aku tertipu, sehingga uangku lenyap sebesar Rp 500.000. Susah payah aku mencari uang, seketika pula lenyapnya. Aku bodoh, mau saja diperbudak olehnya, dengan alasan murah.
Di sini aku mulai berpikir, aku mulai mengoreksi diriku, kenapa ini terjadi padaku. Aku mulai mendekatkan diriku pada sang Khaliq. Dimana kita harus berpikir positif terhadap masalah yang kita alami. Ini adalah ujian bagiku agar aku kuat, agar aku tegar, agar aku bisa menjalani kehidupan yang semakin rumit lagi kedepannya nanti. Dari sini aku juga banyak belajar tentang banyak hal. Semakin aku mendekatkan diri pada Allah, semakin Allah mempermudah jalan kita.
Aku juga belajar untuk merubah sikapku pada keluargaku, terutama papa, aku mulai melapangkan hati, aku mulai membesarkan jiwa bahwa papa ini adalah papa yang telah berada sejak aku dilahirkan di muka bumi sampai saat aku dewasa sekarang ini. Aku berusaha memaafkan dan menyayagi papa seperti aku menyayangi mamaku. Setiap aku menghubungi mama, tak lupa aku menanyakan kabar adik-adik dan papaku yang sangat aku sayangi. Memang canggung awalnya, menanyakan kabar papa ke mama, dimana sebelumnya tak pernah kulakukan. Saat menelpon mamapun, akupun mencoba untuk berbicara pada papa, menanyakan kondisinya, walau aneh awalnya, namun sekarang sudah hal yang biasa bagiku. Tak jarang juga aku merindukan suara papa. Sedikit banyak papa telah berubah, papa tak lagi ke kedai kopi, papa sudah membantu mama, walau sedikit. Namun, itu adalah peruahan yang cuup baik bagiku. Dampak baiknya, mama sudah berkurang marah-marahnya dari biasanya. Pelan pelan tapi pasti.
Waktu berjalan, pelan-pelan aku sudah membuka akses berkomunikasi dengan teman-temanku, aku tak canggung lagi dengan pertanyaan mereka “dimana aku kuliah?”, karena Allah telah membesarkan hatiku, karena Allah sayang padaku, karena Allah sayang pada keluarga kami, bahwa ada yang lebih baik untukku, untuk kami nantinya.
Kabar baiknya, aku telah selesai ujian SBMPTN. Beberapa waktu setelahnya aku di bekerja di konter pulsa, ini waktu luang bagiku sambil menunggu hasil SBMPTN. Sekarang waktunya untuk kami berjuang, bekerja keras, untuk menetukan arah tujuan hidup kami, kemana akan kami langkahkan, karena Takdir ada ditangan Allah S.W.T. Tugas kami adalah berdoa, tawakal, ikhtiar. Dan terhkusus bagiku, aku tak tau doa mana yang akan dikabulkan, aku tak tau usaha mana yang akan membuahkan hasil, namun tugasku saat ini adalah memperbanyaknya. Dan aku! Aku akan tunjukkan bahwa aku bisa membahagikan kalian, aku akan buktikan semuanya. Mama, papa, adik-adik, aku sayang pada kalian, kita harus banyak sabar dan tabah. Doakan anakmu ma, pa karena semuanya AKAN INDAH PADA WAKTUNYA.
Komentar
Posting Komentar
Tanggapan :