Tebarkan Kebaikan


Malam telah latut, jam menunjukkan 01:05 dini hari. Aku masih menatap layar laptop.  Kali ini berbeda, malam ini bukanlah waktu aku begadang untuk mengerjakan tugas, pr atau karena ujian tetepi aku ingin menulis hal yang serhana yang aku alami. Sederhana sekali. Ini adalah nasehat dari sahabatku yan bernama Zaina. 
Zaina anak yang baik, anak yang enak untuk diajak bicara mengenai semua hal yang sedang aku alami. Sampai-sampai aku menceritakan seorang temanku padanya yang bernama Rudi. Awal berkenalan dengan Rudi, aku kurang srek dengan dia karena anaknya aneh, aneh dalam artian sifatnya, kadang-kadang ceria, kadang-kadang banyak diam. Dua sifat yang menurutku jarang dimiliki oleh orang lain. Awalnya dia itu banyak menceritakan tentang planning-planning yang ia miliki. Bagus memang, namun tak jarang karena kesibukan planning ditambah lagi dia akan kuliahan yang hidup sendiri tanpa membebankan kedua orang tuanya membuat dia sibuk akan aktivitasnya. Lagi, ditambah banyak masalah yang ia alami dengan keluarganya, membuat dia berbeda secara mental dari anak kebanyakan.  Karena dampak dari itu semua, ia mendidik dirinya menjadi anak yang tangguh, pekerja keras, rajin, pantang menyerah. Namun sayang, yang aku sesalkan dari dia, dia rela meninggalkan kewajibannya sebagai umat Isalm dalam hal beribadah. Aku mendengar hal itu dari dirinya sendiri merasa kecewa, karena hal duniawi sampai-sampai meninggalkan kewajiban kita, kan semuanya datangnya dari Allah, lagi pula kalau boleh-boleh pilih, sosok seperti dia bukanlah kriteria sang iman yang baik menurutku, dan sejak itu aku sebetulnya kurang srek dengan dia.
Nah disinilah aku menceritakan tentang Rudi pada Zaina. Zaina menceritakan bahwa setiap orang punya jalannya masing-masing dan bisa jadi dia bisa berubah menjadi lebih baik lewat nada, kata Zaina
 Aku berpikir-pikir, apa salahnya? Kan ini untuk kebaikan. Nah waktu terus berjalan, apa yang aku ketahui sedikit banyaknya aku beritahu padanya, apa kewajiban kita harus kita lakukan, tidak boleh ditinggalkan. Dan sepertinya Allah membuka pintu hatinya. Cepat sekali prosesnya. Hal pertama yang aku ketahui saat aku jualan di kampus, aku terus menawari dia belanja, berkali- kali. Awalnya diam, pertemuan kedua, dia senyum saja, ke tiga dia menolak. Ke empat baru aku tau bahwa ternyata dia puasa. Nah di sini Zaina memberi tau, bahwa dia lebih baik dari kita, dia saja puasa, kenapa kita tidak? Malu aku rasanya.
Selanjutnya malam ini kejadiannya, saat aku buat tugas, dia tiba- tiba chat dan kami saling sharing informasi. Dan itu banyak tak sadar aku, kira –kira dari jam 22:00 malam sampai 00:30 pagi. Dan itu menceritakan tentang planning-planning serta kegiatan perlombaan yang telah ia ikut, mau ikuti serta menunggu hasil beasiswa yang sedang ia lakukan sekarang ini. Yang sedikit banyaknya aku berterima kasih atas pengingat bahwa shalat malam dan puasa sunnah yang ia beritahu kepadaku. Sedehana memang. Dan itu sangat aku hargai. Begitu cepat. Saran dari sahabatku Zaina, terima kasih. Kita memang harus saling mengingatkan dalam kebaikan sekecil apapun, hingga dampaknya, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Tebarkan kebaikan walaupun hanya sebesar biji zarrah, dan kelak kamu akan memperoleh kebaikan didalamnya. Btw sekarang jam 01.45. ngatukkk☺

Semoga ini bermanfaat dan bisa dijadikan renungan bagi kita bersama. Jangan lupa untuk selalu bermimpi akan impianmu percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita, doa, usaha dan sabar.
SALAM MIMPI, NAHDAH AYATILLAH

Komentar

Posting Komentar

Tanggapan :

Postingan populer dari blog ini

Arus

Are You Okay?

Alone