Apa yang mereka rasakan
Ada temanku yang memberitahu bahwa, semester II kali ini, saat aku kuliah, aku jarang berbagi cerita kehidupanku, terutama situasi kampus. Itu memang benar, karena aku sibuk sekali dengan jadwal kampus, jadwal organisasi, jadwal mengajar, dan jadwal aku mengaji. Beberapa dari kegitan itu, aku mulai pada semester II, dengan mengisi waktu luangku, dengan menambah ilmu baru dan pengalaman baru tentunya serta teman baru. Semua kegiatan-kegiatan itu akan aku tulis nantinya. Namun ada sesuatu hal uang menarik bagiku yaitu pengalaman aku ikut kegiatan SERTIFIKASI SELAM.
Serfiksi selam ini, aku lakukan untuk mendapatkan sebuah SIM selam, dimana itu digunakan layaknya SIM kendaraan bermotor, yaitu surat izin untuk menyelam. Ternyata, menyelampun harus ada surat izinnya juga. Proses latihan menyelamnya membutuhkan waktu sekitar 4 hari di kolam, dan 2 hari di laut. Ini lah yang membuat aku miris.
Proses penyelaman kami lakukan di Kampung Baru, Lagoi, Bintan. Tempat yang indah, cantik, diperindah dengan beberapa Resort yang mewah nan memalingkan wajah untuk selalu melihatnya. Dimulai saat aku memasuki wilayah resort, karena jalur memasuki Kampung Baru hanya dengan melewati akses jalan masuk yang sama dengan memasuki wilayah Resort, tempat para bule-bule menginap,berekreasi dan bersenang-senang.
Memaski kawasan resort, kami telah disugui dengan pemandangan, resort yang cantik, bangunan yang tertata rapi, taman yang indah, jalan-jalan yang bersih, serta lapangan Golf yang luas, sejauh mata memandang selama berada di resort tersebut. Para Tourist asik memukul bola golf sekencang-kencangnya agar mendekati fnish yang telah ditentukan, ada beberapa dari mereka yang duduk-duduk cantik menikmati suasana lapangan golf sambil melihat rekan mereka bermain. Ditempat lain ada juga bule-bule yang belanja di toko pakaian yang ada diresort tersebut, memilih pakaian apa yang hendak ia pilih untuk dipakai ataupun menjadi oleh-oleh. Tak terasa waktu melintasi kawasan resort selesai.
Saatnya kami disuguhi suatu plang besi yang sudah karatan menghentikan jalan kami untuk masuk ke kawasan kampung baru. Dari depannya sudah berbeda, kami tidak lagi disuguhi jalan aspal hitam yang bersih, namun di depan kami adalah jalan tanah dengan pasir-pasir diatasnya. Kami tidak lagi disuguhi taman indah, pohon yang tertata rapi, namun kami disuguhi dengan penampakan sebuat hutan, hutan yang akan kami lalui yang akan kami masuki dengan beberapa rekan yang pergi menggunakan mobil dan sepeda motor. Memasuki kawasan tersebut, harus melapor ke petugas, jika tidak, maka kamu akan pulang.
Masuk kedalam hutan itu, membuat aku menjadi seorang petualang hebat, yang sedang melakukan suatu perjalanan yang penting, melakukan ekspedisi, melakukan kegiatan yang luar biasa, membuat dada aku mengembang karena dengan bangganya dengan misi penting itu. Sisi kanan, kiri ku hanyalah semak belukar, di atasnya banyak pohon-pohon yang berukuran sedang, tinggi dengan daun yang rimbun. Selanjutkan sampailah kami dikawasan pemukiman penduduk yang hanya dihuni kurang dari 50 Kartu Keluarga, sedikit sekali. Kampung baru, sampailah kami di kamupung baru tempat kami akan melakukan penyelaman.
Basecamp kami tepat berhadapan dengan laut nan biru dengan hembusan angin yang mengenai tubuh dan wajah kami. Indahnya laut membuat aku langsung memasukan kaki ku ke laut nan biru, yang belum pernah aku lihat di Padang. Sampai rekan-rekan ku bingung melihat ulahku yang agak sedikut kampungan bagi mereka, berfoto, mengekspresikan semuanya saat itu juga. Tapi mereka juga ikut senang melihat aku senang, termasuk Dosen ku, yang senyum melihat ulahku.
Singkat cerita, proses penyelaman selesai, kami diharuskan untuk bersih-bersih dan disinilah aku miris melihat situsasi sesungguhnya. Penduduk di Kampung baru kekeringan, kesulitan air bersih, untuk mencuci, mandi dan minum air susah sekali. Tak ada air di rumah mereka, mereka harus pergi untuk mengambil air di sumur umum, yang kedalamnnya hanya sekitar 5 meter dan ada juga 3 meter. Dan bayangkan airnya itu bau, tidak bersih, mandi dengan itu, tubuhku terasa lengket, berkumur-kumur dengan air itu rasanya pahit. Air inilalh yang digunakan untuk kehidupan mereka. Kalau sumur kering, mereka harus pergi jauh untuk membeli air, jikalau kesulitan, air lautlah menjadi salah satu solusi mereka untuk mandi, mencuci.
Miris memang, padahal mereka berada dikawasan resort nan gagah. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena mereka hanyalah rakyat kecil yang suara mereka tak akan di dengar. Ada sebuah cerita bahwa, pemilik resort ingin membeli tanah mereka, namun mereka menolak, dengan alasan bahwa mereka telah lama hidup disana, di tempat yang telah membesarkan mereka, lagi pula kalau dijual mereka akan tinggal dimana.
Hidup didalam lingkarang kemewahan resort, sedangkan mereka terjebak di dalam garis kemiskinan, apakah orang-orang disana tidak memedulihan hari mereka ? anak-anak yang melihat tontonan touris-touris dengan kehidupan mewahnya, apakah kalian tidak kasihan ? kalian bersenang-senang di atas penderitaan mereka. Mereka hanya bisa diam, diam dalam kepedihan, dan kesedihan.
Namun dibalik itu aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, walau dalam kondisi apapun, mereka tetap semangat, mereka tetap tersenyum. Anak-anak yang senang bukan main saat mandi dan berenang bersama teman-temannya di laut, bermain sepeda di pinggiran pantai. Paling tidak itu telah menghibur hati meraka.
Terima kasih untuk pelajaran yang berharga yang talah kalian berikan pada kami, terkhusus bagiku. Mengajarkan kita untuk selalu bersyukur,terhadap nikmat yang telah Allah berikan pada kita hambanya.
Komentar
Posting Komentar
Tanggapan :