Keadilan harus ditegakkan

H-1  lebaran idul fitri 1440 H, aku dan ibu membersiapkan diri untuk pergi ke pasar membeli kebutuhan hari raya. Ada beberapa yan belum di beli kemaren seperti beberapa potong ayam, lontong, santan dan bumbu-bumbu penyedap. Untuk menghindari desak, kerumunan pasar, kami berangkat jam 05:30 dan bayangkan pulang jam 09:10, lama sekali.
Membuat lama ialah membeli santan, semua orang pada antri membeli santan, di toko satu membludak, di tokosatu lagi juga membludak. Apa boleh buat, harus mengantri demi membuat rendang tercinta.
Lamanya antrian, membuat aku lelah, dan mengharuskan aku mengambil kursi untuk duduk didalam antrian. Hanya aku yang antri pakai kursi, tetapi banyak ibu-ibu yang antri berdiri, tapi tak apa, aku lakukan sesuka hati ku, asalkan tidak menyalahi aturan. Aku sempat memperbolehkan mereka duduk bersamaku, namun mereka menolah, memilih untuk berdiri saja.
Membuat aku tidak suka disini adalah, banyaknya orang yang menyelonong antrian, banyak orang yang kenal dengan penjual santan, mendapat santan dari kami yang menunggu begitu lama, satu orang, dua orang, tiga orang, aaaa sungguh banyak, hingga membuat kami geram terhadap tingkah mereka. Beberapa usulan telah dibaritahukan pada penjual, untuk mendahulukan yang antri. Anak dari penjual setuju akan hal tersebut. Namun bapaknya selalu melayani orang-orang yang ia kenal. Ulah bapaknya membuat ibuk-ibuk yang antri geram, termasuk anaknya yang pro terhadap kami. Lagi-lagi, bapaknya melayani orang-orang yang menyelonong antrian, orang yang kenal dangan bapak tersebut, karena hal tersebut membuat aku bertindak. Aku keluar dari antrian, mendekati bapak penjual, agar mendahulukan orang-orang yang sudah antri duluan. Berjalan lancar, namun ada ibuk-ibuk yang ngotot agar barangnya diambil duluan, karena dia sudah lama antri dari subuh katanya.
Aku ambil alih, aku katakan pada ibu tersebut agar antri. Namun katanya dia sudah dari subuh di tempat tersebut, dan pergi bolak-balik pasar. Aku mengiyakan. Namun, kesalahan ibuk itu, ialah ia harus antri, antri tetap antri. Kasihan ibuk-ibuk lain yang hanya menyeloteh-menyeloteh tak tentu, yang sudah menunggu berja-jam yang belum mendapatkan santan mereka. Aku utarakan hal tersebut kepadanya, membuat dia kesal, marah padaku. mencari teman untuk menyudutkanku, membicarakanku smapai menunjuk ke arahku. Namun tidak aku pedulikan. Karena keadilan harus ditegakkan.
Banyak hal yang aku pelajari disini. Indonesia penuh dengan masyarakat yang tidak mematuhi aturan, banyak yang bertindak sesuka hatinya, mereka menganggap kelas social segalanya, dapat membedakannya diantara masyarakat satu dengan yang lain. Namun hal tersebut adalah salah. Yang benar adalah orang yang mengemukan kan pendapat di atas keadilan, diatas kebenaran, tanpa pandang buluh. Dilihat dari hal kecil saja sudah banyak hal-hal yang tidak beres, apa lagi di skala yang lebih besar, pasti banyak nyak lagi. Lalu bagaima dengan Negara kita ya ? aaaaahhhh parah
Alasan terkuat aku bersikap seperti itu, ialah mama selalu mengajarkan kami anak-anaknya untuk selalu bertindak sesuai dengan kebenaran, harus berani dalam menegakkan keadilan, dan yang benar pasti akan menang. Karena apa? Karena mama ku ini lah sosok pejuang tangguh bagiku. Aku ingin seperti mama, yang selalu ingin menang diatas keadilan, yang benar tetap benar dan yang salah  tetap salah.
Ingin aku berbagi kisah, bahwa mamaku memperjuangkan haknya, terhadap apa yang diberikan ayahnya pada mamaku, namun banyak orang yang menginginkan milik mamaku, mamaku disikut dari kiri dan kanan, di tekan dari segala arah. Namu mamaku tak pantang menyerah, mamaku terus berjuang, untuk menegakkan kebenaran. Masalah tersebut bukan hanya mama yang berjaung, anak-anak mama pun, kami ikut berjuang untuk hal tersebut. Panjang cerita, membuat masalah dan prakara tersebut dibawa ke meja hijau, dan you know, yang benar pasti menang. Kami menang di pengadilan. Sungguh manis kalau kita berdiri di kebenaran.
Lalu, banyangkan lah para ustadz, para ulama, para mujahidin, para tabi’in hingga nabi dan rasul yang berbicara diatas kebenaran, namun mereka selalu di intimidasi para makar, pihak-pikak yang tak suka atas keberadaan mereka, yang ingin menguntungkan diri sendiri atau golongan kelompok tertentu tanpa melihat kepentingan bersama? Lalu bagaimana dengan Negara kita ? Aaaaaaahhhhhhh Indonesiaku, kapan akan berubah,kapan akan menegakkan keadilan?
Masih banyak yang akan kita benah,masih banyak PR bagi kita generasi muda. Tugas kita ialah benahi diri, benahi akhlah dan moral kia, dekat pada Allah, dan Rasul.pelajari dan conroh suritaulan terbaik kita, Rasulullah SWA. Dengan itu, diri terbenah, lingkungan terbenah, apalagi Negara, pasti terbenah, Karena dipenuhi dengan orang-orang yang berakhlatul karimah. InsyaAllah. Aamiin
Untuk memulai kehidupan yang besar, dimulai dari membenahi kehidupan yang kecil.
Salam NAHDAH AYATILLAH

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arus

Are You Okay?

Alone