Doni yang luar biasa
Dia adalah salah seorang penjual ayam goreng krispi didekat tempat aku bekerja. Dia seorang anak laki-laki berusia kurang lebih 16 tahun. Dia bekerja menjadi penjual ayam goreng lantaran putus sekolah menengah. Alasannya karena dia tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah. Dari segi prestasi, dia anak yang pintar, waktu SD dia pernah juara satu dari kelas 1-3, juara 3 dari kelas 4-6. Juara dua selama SMP, dan juara 1 waktu kelas 1 SMA.
Berhentinya sekolah, amat disayangkan bagi teman-teman dan guru-guru doni, karena dia memiliki kemampuan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dari pihak sekolahpun mau untuk membiayai sekolahnya. Namun dia menolak itu semua. Dia tidak ingin menyusahkan orang lain, dia ingin hidup mandiri, ingin mencari pekerjaan dan hidup dari jerih payahnya sendiri.
Dodi tinggal bersama nenek dan kakeknya. Neneknya yang sakit sakitan, menyebabkan dia tak enak lagi tinggal di rumah itu, hingga dia memutuskan untuk keluar dari rumah dan menjalani hidup sebatang kara di luar sana, dan sekarang dua tinggal bersama bosnya pemilik usaha ayam goreng
Aku coba menanyakan, kemana saudara-saudaranya. Ia menceritakan bahwa saudara-saudaranya adalah orang-orang yang sukses dan berhasil. Hidup bercukupan dan dibilang orang yang kaya raya. "Lantas kenapa mereka tidak membiayai kamu sekolah? "
"aku tidak ingin membebankan mereka, aku ingin hidup mandiri"
Saudara-saudara doni adalah orang-orang akademisi, kakak pertama lulusan S2 arsitektur, sekarang ada di Tanjungpinang. Kakak no dua lulusan S2 kedokteran sekarang di Jakarta, suaminya pilot Lion Air. Kakak no tiga lulusan S2 ilmu hukum, sekarang di Singapore.
Kakak-kakak Doni, ingin adiknya tetap melanjutkan sekolah karena dia akan naik kelas 3 SMA. Namun doni bersikeras, ia ingin hidup mandiri
Aku melihat dia bagaikan adikku yang ada di Padang, karena mereka seumuran. Aku pun sangat tertarik dengan kisah hidupnya, yang akan aku ceritakkan selanjutnya
Komentar
Posting Komentar
Tanggapan :